Minggu, 17 Juni 2012

Mesir dan Presiden


Mesir dan Presiden


Proses perjalanan politik Timur Tengah terus memanas mencari arti dari kebenaran dari sudut yang berbeda dan memberi makna dari tersimpannya kebohongan. Mesir negara yang punya pengaruh besar di kawasan, mempunyai daya tarik yang sangat mahal di mata musuh atau pun sekutunya.  Dan Mesir mempunyai sungai Nil yang menghidupkan benua Afrika, ada  Terusan Zues  dimana ada sumber ekonomi yang luar biasa. Punya peradaban yang besar, sejarah yang memukau, peninggalan bangsa bangsa terdahulu yang masih ada sampai sekarang sebagai bukti akan majunya Mesir pada waktu itu.

Kalau kita lihat politik Mesir maka yang tergambar dalam benak kita adalah kediktatoran – kerakusan – korupsi -. Birokrasi yang rusak dan negara  tidak bersistem membuat Mesir menjadi salah satu negara tertinggal di Dunia.

Kebosanan rakyat Mesir terhadap undang undang yang ada di Mesir yang selalu memarginalkan golongan miskin dan tidak mempedulikan mereka adalah ciri khas dari sistem yang ada di Mesir. Rakyat Mesir terkenal dengan penghapal Quran yang banyak – pengajian Islam dimana mana. Tapi, tidak bisa banyak bergerak di bawah pemerintah yang otoriter yang selalu bergerak di bawah naungan Amerika dan sekutunya.
Padahal rakyat  Mesir kebanyakan dari mereka tidak menyukai Amerika dan membenci Israel, tapi pemerintah Mesir masih saja terus berusaha mengemis dan meminta bantuan terhadap mereka. Menjalin hubungan diplomatik dengan Israel dan memperkokoh perjanjian camp david yang dimana perjanjian itu sangat merugikan Mesir.  

Demi menjaga kehancuran negara maka Mesir memberanikan diri untuk melakukan pinjaman di Washington. Mesir telah meminta Bank Dunia memberi pinjaman sebesar US$1 miliar untuk membantu membangun kembali perekonomian.
Dana itu untuk membantu kekurangan fiskal dalam upaya pemulihan dari pergolakan politik setahun terakhir. Setelah penggulingan Husni Mubarak pada Februari 2011, gejolak berlanjut di jalanan memusnahkan banyak sektor pariwisata, sektor pendapatan penting negara dan merusak sektor bisnis.

Utang yang besar itu apakah Presiden yang akan terpilih nanti bisa melunasi utang utang itu dengan berbagai kebijakan yang jitu dan tepat. Atau Presiden yang akan datang ini malah membuat Mesir tambah hancur?!
Penulis pernah bertanya kepada penjual roti, " apa yang anda harapkan dari Presiden yang baru nanti?
Maka dia pun menjawab, " Saya ingin Mesir ini berubah menjadi lebih baik lagi, Mesir ini ada Terusan Suez sumber ekonomi yang besar. Tapi kenapa rakyat masih miskin, Mesir banyak gas tapi kenapa masih kurang gas di dalam negeri, tiada lain disebabkan export gas Mesir ke Israel. Kami ingin merubah sistem yang rusak itu dan mengganti semua generasi lama dengan para pejuang revolusi". Tuturnya.

Memang yang memantau perkembangan ini bukan hanya rakyat Mesir tapi seluruh dunia, sebab Mesir adalah negara strategis yang ada di Timur Tengah tentu punya magnet yang besar. Dan rakyat Palestina yang sangat menantikan pemilihan Presiden ini.  Rakyat Palestina sangat memberikan dukungannya terhadap Muhamad Mursi sebagai Presiden Mesir. Sebab sosok Muhamad Mursi sangat bisa diharapkan untuk perjuangan Palestina dibandingkan dengan Ahmad Syafiq. itulah anggapan mereka terhadap tokoh  yang telah diusung oleh Ikhwanul Musliminin ini. Dan Presiden Mesir Mahmud Abbas mengatakan, " Palestina tetap menghormati pemilihan Presiden di Mesir.

Kalau dari kubu Ahmad Syafiq, Di balik pemilihan Presiden itu tersirat pertanyaan mengenai stabilitas di Mesir dan sekitarnya. Selama berpuluh tahun, kawasan Timur Tengah diwarnai persaingan Israel-Palestina di Jalur Gaza. Memasuki dekade 2010, situasi memanas dengan adanya masalah nuklir Iran. Bila kemenangan jatuh ke tangan Shafiq, posisi Mesir akan tetap seperti yang dilakukan di era Mubarak.

Pada masa Mubarak berkuasa, Mesir menjalin akta perdamaian dengan Israel. Sejak 1979, strategi kawasan Israel pun senantiasa berlindung kepada Mesir, termasuk suplai gas hingga 40% untuk negara Yahudi tersebut. Bila Shafiq menang, berarti pemimpin Palestina akan tetap mengalami kesulitan.  Itu semua opini yang tersebar dikalangan rakyat Palestina.

Hamas berharap Mesir di bawah kepemimpinan Mursi bakal mengurangi boikot ekonomi Israel di Gaza. Kubu itu pun percaya Ikhwanul Muslimin akan memegang penuh kontrol di Kairo. "Kelompok Islam di Palestina melihat masa depan mereka terkait erat dengan kemenangan Mursi.
Memang salah satu keunggulan rezim pemerintahan Mubarak di mata Israel adalah keberhasilan rezim itu menerapkan blokade terhadap Gaza. Rezim Mubarak menutup jalur perlintasan langsung ke Mesir meski sangat dibutuhkan warga Gaza untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka dalam mengatasi boikot yang diterapkan Israel. Israel menuding perlintasan Palestina-Mesir merupakan jalur utama penyelundupan senjata untuk melawan mereka.

Para pengamat pun menilai seandainya Mursi memenangi pemilihan Presiden Mesir, ada kemungkinan Mesir keluar dari kesepakatan damai dengan Israel.  Selama ini, Israel telah mendapat banyak keuntungan dari perjanjian yang diteken Presiden Mesir Anwar Sadat dan PM Israel Menachem Begin di Washington DC Amerika Serikat pada 26 Maret 1979 tersebut.

Dengan perjanjian itu, Israel bisa memangkas anggaran militer besar-besaran. Perjanjian tersebut juga banyak membantu mereka dalam menangani konfrontasi dengan Palestina.  Selama revolusi Mesir berlangsung, perjanjian itu menjadi tidak menentu. Apalagi, sepanjang kampanye pemilihan presiden, hampir seluruh kandidat melontarkan kampanye kebencian terhadap negara Yahudi itu.
"Beberapa pihak berpikir Ikhwanul Muslimini akan menjadi lebih pragmatis ketika memegang kekuasaan. Tapi itu masih diragukan. Kami lebih memilih rezim lama yang direpresentasi Shafiq," ujar pemimpin Pusat Kajian Strategis Begin-Sadat Universitas Bar-Ilan, Efraim Inbar.

Mantan diplomat Israel Oded Eran menyebut akan muncul kesepakatan baru bila sosok Ikhwanul Muslimin memenangi pemilihan Presiden di Mesir. "Bila kerja sama terus berjalan pun tidak akan menghilangkan sentimen anti-Israel yang sudah menyebar di Mesir," tukas Eran.
Adapun analis lainnya ada yang berpendapat kemenangan Ikhwanul Muslimin dalam pemilihan Presiden di Mesir akan memperburuk perang dingin antara Mesir-Israel. Jadi banyaknya persepsi dari para pengamat tentang kelebihan dari Mursi dan Syafiq dan kekurangannya, tentunya rakyat Mesir lebih mengetahui, siapa yang berhak memimpin negaranya.

Rakyat Mesir sangat phobia dengan rezim lama atau orang orang yang bergerak di rezim lama. Sebab Itulah sebagian rakyat Mesir mengatakan sistem yang lama wajib diganti oleh rezim baru. Bahkan Sayyid al-Affany, sekretaris Jenderal Partai Nur di Beni Suef, Mesir mengatakan : " Bahwa penerapan hukum buatan manusia di Mesir bertujuan untuk menerima nilai-nilai dan hukum Barat  yang bertentangan dengan hukum Islam dan tradisi Mesir, dimana hukum tersebut memungkinkan orang melakukan perselingkuhan dan kemurtadan.




Sistem yang rusak akan menyebabkan negara yang rusak, rakyat Mesir tidak bisa berbuat banyak apalagi pemerintah yang mempunyai sifat otoritarian. "Nasi sudah jadi bubur " itulah pepatah  yang sesuai buat Mesir sekarang. Hanya saja  generasi yang dipimpin oleh gerakan Ikhwanul Muslimin dan Salafi tidak tinggal diam untuk merubah Mesir menjadi lebih baik. Gerakan Islam sudah mulai memandang bahwasanya politik mesti dikuasai supaya terhindar dari intimidasi dari pemerintah yang takluk di bawah kekuasaan Amerika.

Sebelumnya Salafi mengharamkan berpolitik tapi disebabkan sudah saatnya Salafi juga turun ke dunia politik karena sudah tidak tahan dengan undang undang yang ada diparlemen yang merusak akidah umat Islam. Maka Ikhawanul Muslimin dan Salafi menjadi suatu kekuatan yang besar buat kemajuan Islam di Mesir.
Pemilihan Presiden Mesir sekarang tengah dilaksanakan maka kita juga akan berfikir, siapakah yang berhak menjadi Presiden Mesir dan merubah Mesir menjadi negara yang berwibawa dan bermartabat di mata dunia.
Muhamad Mursi atau Ahmad Syafiq?!
Maka biarlah waktu yang menjawabnya.


Tidak ada komentar: